Cikijing dan Tukang Sapu

Minggu 5 Desember 2011, cuaca lumayan terik. Cahaya matahari panas terpantul dari aspal jalanan. Saya duduk di warung pinggir jalan sambil meneguk segelas air teh manis dingin.

Dari jauh saya melihat seorang lelaki berpakaian biru  dengan sapu dan pengki ditangan. Berkali-kali ia mengelap keringat di dahinya dengan ujung lengan baju, sambil tetap berdiri, lalu sebentar kemudian meneruskan pekerjaaannya.

Berkawan debu, menyapu sampah-sampah, plastik, kertas-kertas, dan botol minuman yang berserakan. Debu-debu terus berterbangan. Debu yang tak bakal nyaman untuk lobang hidung siapa pun. Termasuk, tentu saja untuk lelaki itu.
Setiap hari ia lewat di jalan ini, tentunya lengkap dengan teman setianya, sapu, pengki dan gerobak sampahnya. Setiap hari pula ia menyapukan jalan ini.
Saya tak pernah membayangkan bagaimana hidup seorang penyapu jalan. Barangkali setiap orang kalau bisa, tidak akan sudi menjadi seorang penyapu jalanan. Sebuah pekerjaan yang dianggap kotor, yang dianggap rendahan dan disepelekan sebagian orang.

Tapi tidak dengan lelaki itu, sekalipun dengan upah tak seberapa, tak ada kata mengeluh dari ucapannya. Ia hanya sesekali menengadahkan kepala menatap langit, menarik napas panjang, dan membuangnya kencang-kencang. Lelaki itu mengelap keringat, tampak sekali ia kelelahan.

Ada yang bisa kita pelajari dari kehidupan lelaki itu, belajar tidak terlalu membanggakan sesuatu yang hanya tampak dari luar saja. Jika lelaki itu bisa membiarkan tubuhnya ditempeli debu jalanan dan kotoran demi kenyamanan orang banyak, kenapa kita tidak bisa menyapu bersih debu di hati kita. Toh, keduanya sama mulia.
Saya menghirup tetes terakhir air teh manis di meja. Menatap bangga pada lelaki yang tengah berjuang di tengah kepulan debu.
Di jalan ini, Jl.Terminal  dan jalan-jalan lainnya di kota Cikijing ini, selalu membutuhkan sapu. Puluhan bahkan ratusan kendaraan yang melintas di atasnya, barangkali tak pernah sempat bertanya kenapa , plastik-plastik, serta sampah-sampah makanan yang dibuang dari jendela mobil, selalu lenyap ketika hari berganti.
Mengingat hal itu, rasanya saya perlu sesekali untuk menghampirinya, memberi segelas air penghilang dahaga, atau barangkali hanya untuk sekadar mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.

“Kita sering melupakan jasa seorang tukang sapu yang rela membiarkan tubuh mereka kotor demi kebersihan orang banyak  dan Kita tidak pernah tau seberapa berarti  seseorang ,sebelum kita kehilangan dia”

***

Salam Lestari

AIR

Tentang AIR ( Aktivitas Rimbawan )

Komunitas Pelestari Lingkungan Hidup
Pos ini dipublikasikan di Jendela Kita dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s