Manajemen Konflik Dalam Organisasi

Dalam sebuah orgaisasi, terlalu banyak atau sedikit konflik akan merugikan bagi organisasi tersebut. Konflik yang terlalu banyak akan menimbulkan perasaan negatif yang kuat, mengabaikan saling ketergantungan dan tindakan agresif yang tidak terkontrol, serta tindakan balasan. Sedangkan terlalu sedikitnya konflik akan menghilangkan informasi kritis bagi  keharmonisan atau pengembangan organisasi lebih lanjut.

Menurut pandangan modern, konflik merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam organisasi. Konflik antar kelompok dapat menjadi kekuatan positif dan negatif bagi pencapaian tujuan organisasi.Manajemen tidak perlu berjuang untuk menghilangkan setiap konflik yang terjadi,tetapi konflik yang bersifat negatif dan menimbulkan dampak / gangguan terhadap pencapaian tujuan organisasi harus diminimumkan.Tetapi isu yang paling mendasar dan terpenting bukanlah pada makna dari konflik itu sendiri tetapi bagaimana cara mengelola konflik agar membantu efektifitas organisasi.

“Seorang pemimpin harus mampu menganalisa kondisi yang ada, membaca arah perubahan yang terjadi disekelilingnya, cepat tanggap dalam menghadapi masalahdan mampu mengambil keputusan secara tepat dan efektif.”

Banyak diantara kita yang menghindari konflik, banyak diantara kita yang menganggap konflik harus dihindari, banyak diantara kita yang berpikiran pelaku konflik adalah musuh atau dimusuhi, dan dijauhi, banyak diantara kita yang takut masuk kedalam konflik. Padahal dari semua itu konflik bisa dimanage dengan baik dapat menjadi dinamika dalam berorganisasi, bisa menjadi hidupnya suatu organisasi. Kita perlu mempersepsikan konflik sebagai realita yang tidak perlu dihindari apalagi ditakuti sehingga bisa membuat  kehidupan organisasi stagnan,sebaliknya konflik harus diterima sebagai mesin dinamika organisasi yang harus dikelola secara cerdas, karena dalam kenyataannya konflik tidak selamanya bersifat destruktif.

Perlu adanya manajemen konflik yang baik. Adapun kegiatannya adalah menstimulasi konflik, mengurangi atau menurunkan konflik, dan mengendalikan konflik. Menstimulasi konflik dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan prestasi, mengadakan evaluasi kinerja secara terpadu, memotivasi karyawan. Untuk mengurangi konflik dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan bersama, menetapkan peraturan, mutasi jabatan, menggabungkan unit yang konflik dan membuka forum dialog. Mengendalikan konflik dapat dilakukan dengan cara musyawarah, campur tangan pihak ke 3 atau mediator, konfrontasi, tawar menawar, dan kompromi. Organisasi dapat menerapkan manajemen konflik yang baik tergantung pada  kondisi yang ada dilapangan.

Disinilah peran seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus mampu menganalisa kondisi yang ada. Mampu membaca arah perubahan yang terjadi disekelilingnya. Cepat tanggap dalam menghadapi masalah. Memahami masalah tidak hanya dari satu sisi tapi dari berbagai sisi yang memungkinkan diambilnya sebuah keputusan yang tepat dan efektif.. Mengetahui dengan pasti karakteristik organisasinya baik itu hambatan, peluang, kelemahan maupun potensi yang dimiliki. Pemimpin organisasi harus mampu menjabarkan secara jelas tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi sehingga masing-masing anggota tidak salah arah. Mengatur pembagian tugas yang jelas kepada setiap anggota sesuai dengan ketentuan yang telah disepakai sehingga tidak terjadi tumpang tindih wewenang dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Pimpinan mampu menciptakan iklim yang kondusif guna membawa organisasi kearah yang lebih baik. Selain itu transparansi dan keterbukaan dalam menerima saran dan kritik dari anggota menjadi faktor yang tak kalah pentingnya.

Kemajuan organisasi ditentukan oleh para pengelolanya. Pemimpin berperan sebagai motor pengerak dalam kehidupan organisasi, betapapun tingginya tingkat keterampilan dan kinerja yang dimiliki oleh para pelaksana kegiatan operasional, para bawahan atau anggota organisasi tetap memerlukan pengarahan, bimbingan dan pengembangan. Agar organisasi dapat berjalan efektif, pemimpin harus melaksanakan empat peranan yaitu pemroduksian, pelaksanaan, pembaharuan, dan keemanduan. Peranan pemroduksian diartikan bahwa, produktivitas individual tidak secara otomatis dapat dicapai tanpa usaha dan peran pemimpin, pemimpin harus mampu mendayagunakan anggota dalam arti mengarahkan, menggerakkan, dan memotivasinya sehingga dapat bekerja secara optimal untuk menigkatkan produktivitas organisasi. Peranan pelaksanaan artinya pemimpin mengkoordinasikan, menjadwalkan, mengendalikan, dan mendisiplinkan karyawan. Peranan pembaharuan dilakukan oleh pemimpin karena organisasi berada dalam lingkungan yang terus berubah, pemimpin dituntut untuk mempunyai kemampuan untuk mengubah tujuan dan system yang dilaksanakan sesuai dengan tuntutan  perkembangan keadaan. Peranan pemaduan dalam organisasi adalah proses strategi perseorangan digabungkan ke dalam strategi kelompok, tujuan individual diselaraskan dengan tujuan kelompok, resiko individual menjadi resiko kelompok.

Anggota organisasi juga harus berperan aktif dalam organisasi. Mengetahui tujuan organisasi. Mengetahui apa tugas dan tanggungjawabnya. Mengetahui segala konsekuensinya menjadi anggota organisai. Selain itu anggota juga dituntut untuk berpartisipasi.  Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata. Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.

Suatu organisasi akan berhasil dalam mencapai tujuan dan program–programnya jika orang-orang yang bekerja dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik sesuai dengan bidang dan tanggungjawabnya. Agar orang-orang dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka diperlukan seorang pemimpin yang dapat mengarahkan segala sumber daya yang ada menuju ke arah pencapaian tujuan. Dalam suatu organisasi, berhasil atau tidaknya tujuan tersebut sangat dipengaruhi dua faktor, yaitu Pemimpin dan orang yang dipimpinnya. Agar kepemimpinan yang dilaksanakan oleh pemimpin tersebut efektif dan efisien, salah satu tugas yang harus dilakukan adalah memberikan kepuasan kepada orang yang dipimpinnya.

—-oOo—-

Tentang AIR ( Aktivitas Rimbawan )

Komunitas Pelestari Lingkungan Hidup
Pos ini dipublikasikan di Pengetahuan, Tulisan Terbaru dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s